Definisi
Asma merupakan penyakit
dengan karakteristik meningkatnya reaksi trakea dan bronkus oleh berbagai macam
pencetus disertai dengan timbulnya penyempitan luar saluran nafas bagian bawah
yang dapat berubah-ubah derajatnya secara spontan atau dengan pengobatan (Buku
Ilmu Kesehatan Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI).
Asthma Bronchiale
adalah penyakit yang mempunyai karakteristik dengan peningkatan respon trakhea
dan bronkus dengan berbagai macam
stimulasi: psikologis, otonom, infeksi, endokrin, kekebalan imun dan biokimia.
(Nancy Holloway Medical, Surgical Nursing Care Plan).
Anatomi Fisiologi
Sistem pernafasan
terdiri dari suatu rangkaian saluran udara yang mengantarkan udara luas agar
bersentuhan dengan membran-membran kapiler alveoli paru. Saluran penghantar
udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung, pharing, laring, bronkus dan
bronkioulus yang dilapisi oleh membran mukosa bersilia.
a. Hidung
Ketika udara masuk ke
rongga hidung udara tersebut disaring, dihangatkan dan dilembabkan.
Partikel-partikel yang kasar disaring oleh rambut-rambut yang terdapat di dalam
hidung, sedangkan partikel halus akan dijerat dalam lapisan mukosa, gerakan
silia mendorong lapisan mukus ke posterior di dalam rongga hidung dan ke
superior di dalam saluran pernafasan bagian bawah.
b. Pharing
Merupakan tempat
persimpangan antara jalan pernafasan dan jalan makanan. Terdapat di bawah dasar
tengkorak, di belakang rongga hidung dan mulut setelah depan ruas tulang leher.
Hubungan pharing dengan
rongga-rongga lain: ke atas berhubungan dengan rongga hidung dengan perantaraan
lubang yang bernama koana. Ke depan berhubungan dengan rongga mulut. Tempat
hubungan ini bernama istmus fausium lubang esophagus.
Di bawah selaput lendir
terdapat jaringan ikat, juga di beberapa tempat terdapat folikel getah bening.
Perkumpulan getah bening dinamakan adenoid. Di sebelahnya terdapat dua buah
tonsil kiri dan kanan dari tekak. Di sebelah belakang terdapat epiglotis
(empang tengkorak) yang berfungsi menutup laring pada waktu menelan makanan.
Rongga tekak dibagi
menjadi 3 bagian:
· Bagian
sebelah atas yang sama tingginya dengan koana disebut nasofaring.
· Bagian
tengah yang sama tingginya dengan istmus fausium disebut orofaring.
· Bagian
bawah skali dinamakan laringofaring.
c. Laring
Laring terdiri dari
satu seri cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otot-otot pita suara.
Laring dianggap berhubungan dengan fibrasi tetapi fungsinya sebagai organ
pelindung jauh lebih penting. Pada waktu menelan laring akan bergerak ke atas
glotis menutup.
Alat ini berperan untuk
membimbing makanan dan cairan masuk ke dalam esophagus sehingga kalau ada benda
asing masuk sampai di luar glotis maka laring mempunyai fungsi batuk
yang membantu benda dan sekret dari saluran inspirasi bagian bawah.
d. Trakea
Trakea disokong oleh
cincin tulang yang fungsinya untuk mempertahankan oagar trakea tatap terbuka.
Trakea dilapisi oleh lendir yang terdiri atas epitelium bersilia, jurusan silia
ini bergerak jalan ke atas ke arah laring, maka dengan gerakan ini debu dan
butir halus yang turut masuk bersama dengan pernafasan dapat dikeluarkan.
e. Bronkus
Dari trakea udara masuk
ke dalam bronkus. Bronkus memiliki percabangan yaitu bronkus utama kiri dan
kanan yang dikenal sebagai karina. Karina memiliki syaraf yang menyebabkan
bronkospasme dan batuk yang kuat jika dirangsang. Bronkus utama kiri dan kanan
tidak simetris, bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar yang arahnya hampir
vertikal, sebalinya bronkus ini lebih panjang dan lebih sempit. Cabang utama bronkus
bercabang lagi menjadi bronkus lobaris dan kemudian segmentalis. Percabangan
ini berjalan terus dan menjadi bronkiolus terminalis yaitu saluran udara
terkecil yang tidak mengandung alveoli.
f. Bronkiolus
Saluran udara ke bawah
sampai tingkat bronkiolus terminalis merupakan saluran penghantar udara ke
tempat pertukaran gas paru-paru setelah bronkiolus terdapat asinus yang
merupakan unit fungsional paru yaitu tempat pertukaran gas. Asinus terdiri dari
bronkiolus respiratorik, duktus alveolaris, sakus alveolaris terminalis,
alveolus dipisahkan dari alveolus di dekatnya oleh dinding septus atau septum.
Alveolus dilapisi oleh
zat lipoprotein yang dinamakan surfaktan yang dapat mengurangi tegangan
pertukaran dalam mengurangi resistensi pengembangan pada waktu inspirasi dan
mencegah kolaps alveolus pada ekspirasi.
Peredaran Darah
Paru-Paru
Paru-paru mendapat dua
sumber suplai darah yaitu dari arteri bronkialis (berasal dari aorta
thorakhalis dan berjalan sepanjang dinding posterior bronkus) dan arteri
pulmonalis. Sirkulasi bronchial menyediakan darah teroksigenasi dari sirkulasi
sitemik dan berfungsi memenuhi kebutuhan metabolisme paru.
Vena bronkialis besar
bermuara pada vena cava superior dan mengembalikan darah ke atrium kanan. Vena
bronkialis yang lebih kecil akan mengalirkan darah ke vena pulmonalis. Arteri
pulmonalis yang berasal dari ventrikel kanan jantung mengalirkan darah vena
campuran ke paru-paru. Di paru-paru terjadi pertukaran gas antara alveoli dan
darah, darah yang teroksigenasi dikembalikan ke ventrikel kiri jantung melalui
vena pulmonalis, yang selanjutnya membagikannya melalui sirkulasi sistemik ke
seluruh tubuh.
Proses Pernafasan
dipengaruhi oleh:
Ventilasi :
pergerakan mekanik udara dari dan ke paru-paru
Perfusi : distribusi
oksigen oleh darah ke seluruh pembuluh darah di paru-paru.
Difusi : pertukaran
oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan kapiler paru.
Transportasi : pengangkutan
O2-CO2 yang berperan pada sistem cardiovaskuler.
Etiologi
· Faktor
Ekstrinsik
Ditemukan pada sejumlah
kecil pasien dewasa dan disebabkan oleh alergen yang diketahui karena kepekaan
individu, biasanya protein, dalam bentuk serbuk sari yang hidup, bulu halus
binatang, kain pembalut atau yang lebih jarang terhadap makanan seperti susu atau
coklat, polusi.
· Faktor
Intrinsik
Faktor ini sering tidak
ditemukan faktor-faktor pencetus yang jelas. Faktor-faktor non spefisik seperti
flu biasa, latihan fisik atau emosi dapat memicu serangan asma. Asma instrinsik
ini lebih biasanya karena faktor keturunan dan juga sering timbul sesudah usia
40 tahun. Dengan serangan yang timbul sesudah infeksi sinus hidung atau pada
percabangan trakeobronchial.
Patofisiologi
Asma adalah obstruksi
jalan nafas difus revesible yang disebabkan oleh satu atau lebih dari faktor
berikut ini.
1. Kontraksi
otot-otot yang mengelilingi bronkhi yang menyempitkan jalan nafas.
2. Pembengkakan
membran yang melapisi bronchi.
3. Pengisian
bronchi dengan mukus yang kental.
Selain itu, otot-otot
bronchial dan kelenjar membesar. Sputum yang kental, banyak dihasilkan dan
alveoli menjadi hiperinflamasi dengan udara terperangkap di dalam paru.
Antibodi yang
dihasilkan (IgE) kemudian menyerang sel-sel mast dalam paru. Pemajanan ulang
terhadap antigen mengakibatkan ikatan antigen dengan antibodi menyebabkan
pelepasan produk sel-sel mast (mediator) seperti: histamin, bradikinin, dan
prostaglandin serta anafilaksis dari suptamin yang bereaksi lambat.
Pelepasan mediator ini
mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan nafas menyebabkan broncho spasme,
pembengkakan membran mukosa dan pembentukan mukus yang sangat banyak.
Sistem syaraf otonom
mempengaruhi paru, tonus otot bronchial diatur oleh impuls syaraf pagal melalui
sistem para simpatis. Pada asthma idiopatik/non alergi, ketika ujung syaraf
pada jalan nafas dirangsang oleh faktor seperti: infeksi, latihan, udara
dingin, merokok, emosi dan polutan. Jumlah asetilkolin yang dilepaskan
meningkat.
Pelepasan astilkolin
ini secara langsung menyebabkan bronchikonstriksi juga merangsang pembentukan
mediator kimiawi.
Pada serangan asma
berat yang sudah disertai toxemia, tubuh akan mengadakan hiperventilasi untuk
mencukupi kebutuhan O2. Hiperventilasi ini akan menyebabkan
pengeluaran CO2 berlebihan dan selanjutnya mengakibatkan
tekanan CO2 darah arteri (pa CO2) menurun sehingga
terjadi alkalosis respiratorik (pH darah meningkat). Bila serangan asma lebih berat
lagi, banyak alveolus tertutup oleh mukus sehingga tidak ikut sama sekali dalam
pertukaran gas. Sekarang ventilasi tidak mencukupi lagi, hipoksemia bertambah
berat, kerja otot-otot pernafasan bertambah berat dan produksi CO2 yang
meningkat disertai ventilasi alveolar yang menurun menyebabkan retensi CO2 dalam
darah (Hypercapnia) dan terjadi asidosis respiratori (pH menurun). Stadium ini
kita kenal dengan gagal nafas.
Hipotermi yang
berlangsung lama akan menyebabkan asidosis metabolik dan konstruksi jaringan
pembuluh darah paru dan selanjutnya menyebabkan sunting peredaran darah ke
pembuluh darah yang lebih besar tanpa melalui unit-unit pertukaran gas yang
baik. Sunting ini juga mengakibatkan hipercapni sehingga akan memperburuk
keadaan.
Tanda dan Gejala
Gejala asma yang klasik
terdiri atas batuk, sesak dan mengie (wheezing) dan sebagian penderita disertai
nyeri dada). Gejala-gejala tersebut tidak selalu terdapat bersama-sama,
sehingga ada beberapa tingkat penderita asma sebagai berikut:
· Tingkat
I penderita asma secara klinis normal. Gejala asma timbul bila ada faktor
pencetus.
· Tingkat
II penderita asma tanpa keluhan dan tanpa kelainan pada pemeriksaan fisik
tetapi fungsi paru menunjukan tanda-tanda obstruksi jalan nafas.
· Tingkat
III penderita asma tanpa golongan tetapi pada pemeriksaan fisik maupun fungsi
paru menunjukan obstruksi jalan nafas.
Misal: Tingkat II
dijumpai setelah sembuh dari serangan asma.
- Tingkat III penderita
sembuh tetapi tidak menemukan pengobatannya.
· Tingkat
IV penderita asma yang paling sering dijumpai mengeluh sesak nafas, batuk dan
nafas berbunyi.
Pada pemeriksaan fisik
maupun spirometri akan ditemukan obstruksi jalan nafas. Pada serangan asma yang
berat gejala yang timbul antara lain:
a. Kompresi
otot-otot bantu pernafasan terutama otot sterna.
b. Cyanosis
c. Silent
chest
d. Gangguan
kesadaran
e. Penderita
tampak letih, hiperinflasi dada
f. Thacycardi
· Tingkat
V status asmatikus yaitu serangan asma akut yang berat bersifat refrater
sementara terhadap pengobatan yang langsung dipakai.
Test
Diagnostik
1. Tes
kulit (tuberculin dan alergen)
Tes kulit (+) reaksi
lebih hebat, mengidentifikasi alergi yang spesifik.
2. Rontgen:
foto thorax menunjukan hiperinflasi dan pernafasan diafragma.
3. Pemeriksaan
sputum: Dapat jernih atau berbusa (alergi)
Dapat
kental dan putih (non alergi)
Dapat
berserat (non alergi)
4. Pemeriksaan
darah: * Eusinofilia (kenaikan badan eusinofil)
* Peningkatan
kadar IgE pada asma alergi
* AGD Ã hipoxi
(serangan akut)
Penatalaksanaan Medik
Ada lima kategori
pengobatan yaitu:
1. Abenis
(Beta)
Medikasi awal untuk
mendilatasi otot-otot polos bronchial, meningkatkan gerakan siliarism,
menurunkan mediator kimiawi anafilaktik dan menguatkan efek bronkodilatasi dari
kortikosteroid.
Contoh: Epinenin,
Abuterol, Meraproterenol
2. Methil
Santik
Mempunyai efek
bronkodilator, merileksasikan otot-otot polos bronkus, meningkatkan gerakan
mukus, dan meningkatkan kontraksi diafragma.
Contoh: Aminofilin,
Theofilin
3. Anti
Cholinergik
Diberikan melalui
inhalasi bermanfaat terhadap asmatik yang bukan kandidat untuk antibodi b dan
methil santin karena penyakit jantung.
Contoh: Atrofin
4. Kortikosteroid
Diberikan secara IV,
oral dan inhalasi. Mekanisme kerjanya untuk mengurangi inflamasi dan
bronkokonstriktor.
Contoh: hidrokortison,
prednison dan deksametason
5. Inhibitor
Sel Mast
Contoh: natrium
bromosin adalah bagian integral dari pengobatan asma yang berfungsi mencegah
pelepasan mediator kimiawi anafilaktik.
Komplikasi
1. Pneumothorax
2. Pneumomediastinum
dan emfisema subcutis
3. Atelektasis
4. Asper
gilosis bronkopulmoner
5. Alergi
6. Gagal
nafas
7. Bronchitus
8. Fraktur
iga.
B. Konsep
Dasar Keperawetan
Pengkajian
a. Pola
persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
- Klien
mengeluh sesak nafas, batuk, lendir susah keluar
- Mengeluh
mudah lelah dan pusing
- Data
penggunaan obat
- Klien
mengenal/tidak mengenal penyebab serangan
b. Pola
nutrisi metabolik
- Mual,
muntah, tidak nafsu makan
- Menunjukan
tanda dehidrasi, membran mukosa kering
- Cyanosis,
banyak keringat
c. Pola
aktivitas dan latihan
- Aktivitas
terbatas karena adanya wheezing dan sesak nafas
- Kebiasaan
merokok
- Batuk
dan lendir yang sulit dikeluarkan
- Menggunakan
otot-otot tambahan saat inspirasi
d. Pola
tidur dan istirahat
- Keluhan
kurang tidur
- Lelah
akibat serangan sesak nafas dan batuk
e. Pola
persepsi dan konsep diri
- Klien
kemungkinan dapat mengungkapkan strategi mengatasi serangan, tetapi tidak mampu
mengatasi jika serangan datang.
f. Pola
kognitif dan persepsi sensori
- Sejauh
mana pengetahuan klien tentang penyakitnya
- Kemampuan
mengatasi masalah
- Melemahnya
proses berfikir
g. Pola
peran dan hubungan dengan sesama
- Terganggunya
peran akibat serangan
- Merasa
malu bila terjadi serangan
h. Pola
seksualitas dan reproduksi
- Menurunnya
libido
i. Mekanisme
dan toleransi terhadap stress
- Mengingkari
- Marah
- Putus
asa
Diagosa Keperawatan
a. Ketidakefektifan
jalan nafas b.d peningkatan produksi sekret.
b. Gangguan
pertukaran gas b.d gangguan suplai O2.
c. Intoleransi
beraktivitas dalam melakukan perawatan diri b.d sesak dan kelemahan fisik.
d. Resiko
tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d pemasukan yang tidak
adekuat: mual, muntah dan tidak nafsu makan.
e. Kecemasan
b.d sesak nafas dan takut.
f. Ketidakefektifan
pola nafas b.d penurunan ekspansi paru selama serangan akut.
g. Resiko
tinggi infeksi b.d tidak adekuatnya pertahan utama (penurunan kerja silia dan
menetapnya sekret).
h. Kurang
pengetahuan b.d kurangnya informasi.
Rencana
Tindakan
a. Ketidakefektifan
jalan nafas b.d peningkatan sekret.
HYD: - Suara
nafas vesikuler
- Bunyi
nafas bersih, tidak ada suara tambahan
Intervensi:
1. Auskultasi
bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas misalnya mengi, krekels, ronchi.
R/ Beberapa
derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat/tidak
dimanifestasikan adanya bunyi nafas adventisius misalnya: penyebaran, krekels
basah (bronkitis), bunyi nafas redup dengan ekspirasi mengi (emfisema) atau
tidak adanya bunyi nafas (asma berat).
2. Kaji/pantau
frekuensi pernafasan, catat radio inspirasi/ekspirasi.
R/ Tachipnea
biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau
selama stress/adanya proses infeksi akut. Pernafasan dapat melambat dan
frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi.
3. Catat
adanya derajat dyspnea misalnya keluhan “lapar udara”, gelisah, ansietas,
distress pernafasan, penggunaan otot bantu.
R/ Disfungsi
pernafasan adalah variabel yang tergantung pada tahap proses kronis selain
proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit. Misalnya infeksi, reaksi
alergi.
4. Kaji
pasien untuk posisi yang nyaman misalnya peninggian kepala tempat tidur, duduk
pada sandaran tempat tidur.
R/ Peninggian
kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi.
Sokongan tangan/kaki dengan meja, bantal, dll membantu menurunkan kelemahan
otot dan dapat sebagai alat ekspansi dada.
5. Pertahankan
polusi lingkungan minimum misalnya: debu, asap dan bulu bantal yang berhubungan
dengan kondisi individu.
R/ Pencetus tipe
reaksi alergi pernafasan yang dapat, mentriger episode akut.
6. Dorong/bantu
latihan nafas abdomen atau bibir.
R/ Memberikan
pasien-pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dyspnea dan
menurunkan jebakan udara.
7. Observasi
karakteristik batuk misalnya menetap, batuk pendek, basah. Bantu tindakan untuk
memperbaiki keefektifan upaya batuk.
R/ Batuk dapat
menetap tetapi tidak efektif, khususnya bila pasien lansia, sakit akut atau
kelemahan. Batuk paling efektif pada posisi duduk tinggi atau kepala di bawah
setelah perkusi dada.
8. Tingkatkan
masukan cairan antara sebagai pengganti makanan.
R/ Hidrasi
membantu menurunkan kekentalan sekret. Mempermudah pengeluaran. Penggunaan
cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus. Cairan selama makan dapat
meningkatkan distensi gaster dan tekanan pada diafragma.
b. Gangguan
pertukaran gas b.d gangguan suplai O2.
HYD: - Menunjukan
perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan dalam rentang normal
dan bebas gejala distress pernafasan.
Intervensi:
1. Kaji
frekuensi, kedalaman pernafasan.
R/ Berguna dalam
evaluasi derajat distress pernafasan atau kronisnya penyakit.
2. Awasi
secara rutin kulit dan membran mukosa.
R/ Kemungkinan
cyanosis perifer terlihat pada kuku, bibir dan daun telinga.
3. Kaji
AGD, pO2, pCO2.
R/ Hipoxemia
biasanya terjadi pada saat akut keadaan lanjut pCO2 akan
meningkat.
4. Monitor
tingkat kesadaran, kelainan sakit kepala dan gangguan penglihatan.
R/ Sebagai
parameter menunjukan beratnya serangan.
5. Monitor
TTV dan penggunaan otot bantu pernafasan.
R/ Indikator yang
menunjukan hipoxemia dan meningkatkan usaha untuk ventilasi.
c. Intoleransi
beraktivitas dalam melakukan perawatan diri b.d sesak dan kelemahan fisik.
HYD: - Mampu
beraktivitas sesuai keadaan.
- Merawat
diri secara mandiri.
Intervensi:
1. Kaji
keluhan sesak, pusing dan kemampuan merawat diri klien.
R/ Memahami
masalah klien.
2. Bantu
personal higiene (mandi, berpakaian, bab, bak).
R/ Higiene klien
terpenuhi.
d. Resiko
tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tidur b.d pemasukan yang tidak
adekuat akibat dari mual, muntah, tidak nafsu makan.
HYD: - Nutrisi
terpenuhi secara adekuat.
- Berat
badan dalam batas normal sesuai IMT.
Intervensi:
1. Kaji
status nutrisi klien.
R/ Klien dengan
distress pernafasan sering anoreksia dikarenakan dyspnea, produksi sputum dan
obat-obatan.
2. Evaluasi
berat badan dan ukuran tubuh.
R/ Kegagalan
pernafasan membuat status hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan kalori.
3. Auskultasi
bising usus.
R/ Penurunan
bising usus menunjukan penurunan motilitas gaster dan konstipasi yang
berhubungan dengan penurunan aktivitas.
4. Hindarkan
makanan yang menghasilkan sisa gas dan karbonat.
R/ Dapat
menghasilkan distensi abdomen yang mengganggu pernafasan abdomen.
5. Beri
makanan porsi kecil dan sering.
R/ Membantu
menurunkan kelemahan selama waktu makan dan memberikan kesempatan untuk
meningkatkan masukan kalori total.
e. Kecemasan
b.d sesak nafas dan takut.
HYD: - Ekspresi
wajah rileks.
- Mengungkapkan
perasaan cemas berkurang.
- TTV
dalam batas normal.
Intervensi:
1. Kaji
tingkat ansietas (ringan, sedang, berat).
R/ Untuk
menentukan intervensi selanjutnya dan membantu pasien meningkatkan beberapa
perasaan kontrol emosi.
2. Kaji
kebiasaan ketrampilan koping.
R/ Memberikan
pasien tindakan mengontrol untuk menurunkan ansietas dan ketegangan otot.
3. Beri
dukungan emosional, tetap berada di dekat pasien selama serangan akut,
antisipasi kebutuhan pasien, berikan keyakinan lingkungan.
R/ Menurunkan
stress dan meningkatkan relaksasi dan kemampuan koping.
4. Implementasikan
teknik relaksasi, petunjuk imajinasi, relaksasiotot.
R/ Memberikan
pasien untuk tindakan mengontrol untuk menurunkan ansietas dan ketegangan otot.
5. Jelaskan
prosedur-prosedur, berikan pertanyaan-pertanyaan.
R/ Menurunkan
stress dan meningkatkan relaksasi.
6. Pertahankan
periode istirahat yang telah direncanakan dan kegiatan sehari-hari yang ringan
dan sederhana, jangan anjurkan berbicara bila sedang dyspnea berat, batasi
pengunjung bila perlu dan berikan dorongan untuk melakukan periode istirahat
dengan sering.
R/ Menurunkan
stress dan meningkatkan relaksasi.
f. Ketidakefektifan
pola nafas b.d penurunan ekspansi paru selama serangan akut.
HYD: Pasien
mempertahankan pola nafas efektif yang ditunjukan oleh:
- Frekuensi
irama dan kedalaman pernafasan.
- Tidak
terdapat atau dyspnea berkurang.
- Gas-gas
darah arteri dalam batasan yang dapat diterima oleh pasien.
Intervensi:
1. Kaji
frekuensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada serta catat upaya pernafasan
termasuk penggunaan otot bantu atau pelebaran nasal.
R/ Kecepatan
biasanya meningkatkan dyspnea dan terjadi peningkatan kerja nafas, kedalaman
pernafasan bervariasi tergantung derajat gagal nafas.
2. Auskultasi
bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas adventisius seperti krekels, mengi,
gesekan pleural.
R/ Ronchi dan
mengi menyertai obstruksi jalan nafas/kegagalan pernafasan.
3. Beri
posisi semi fowler.
R/ Membantu
ekspansi paru.
4. Bantu
pasien dalam nafas dalam dan latihan batuk efektif.
R/ Membantu
mengeluarkan sputum dimana dapat mengganggu ventilasi dan ketidaknyamanan upaya
bernafas.
5. Berikan
therapi oksigen sesuai pesanan.
R/ Memaksimalkan
persediaan oksigen untuk pertukaran gas.
6. Berikan
obat-obatan sesuai pesanan.
R/ Mempercepat
penyembuhan.
g. Resiko
tinggi infeksi b.d tidak adekuatnya pertahanan utama (penurunan kerja silia,
menetapnya sekret.
HYD: Tidak
terjadi infeksi ditandai dengan tidak ditemukannya kemerahan, panas dan
pembengkakan.
Intervensi:
1. Observasi
TTV.
R/ Indikator
tanda-tanda infeksi.
2. Observasi
warna, karakter dan bau sputum.
R/ Sekret berbau
kuning atau kehijauan menunjukan adanya infeksi paru.
3. Anjurkan
pasien membuang tissue dan sputum pada tempatnya.
R/ Mencegah
penyebaran patogen melalui cairan.
4. Dorong
keseimbangan antara aktivitas dengan istirahat.
R/ Menurunkan
konsumsi atasu kebutuhan keseimbangan oksigen dan memperbaiki pertahanan pasien
terhadap infeksi, meningkatkan penyembuhan.
5. Diskusikan
kebutuhan masukan nutrisi adekuat.
R/ Malnutrisi
dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi.
6. Berikan
obat sesuai pesanan.
R/ Mencegah
terjadinya infeksi.
h. Kurang
pengetahuan b.d kurangnya informasi.
HYD: Pasien
mendemonstrasikan pengetahuan tentang penatalaksanaan perawatan kesehatan
seperti yang dijelaskan tentang prinsip perawatan diri yang berhubungan dengan
proses penyakit.
Intervensi:
1. Kaji
tingkat pengertian mengenai proses penyakit.
R/ Untuk
menentukan intervensi selanjutnya.
2. Jelaskan
pentingnya pencegahan, serangan selanjutnya.
R/ Menambah
pengetahuan dan partisipasi pasien.
3. Jelaskan
pentingnya latihan pernafasan dan batuk efektif.
R/ Membantu
meminimalkan kolaps jalan nafas.
4. Jelaskan
tentang proses penyakit dan perawatan diri selama serangan hebat.
R/ Menurunkan
ansietas dan dapat kooperatif dari pasien.
5. Jelaskan
pentingnya diit dan cairan: makan seimbang dan bergizi, hindari penambah berat
badan yang berlebihan, perbanyak cairan 2000-3000 ml/hari kecuali ada
kontraindikasi.
R/ Meningkatkan
kooperatif dari pasien.
6. Diskusikan
mengenai obat, nama, dosis, waktu pemberian, tujuan dan efek samping serta
pentingnya minum obat sesuai pesanan.
R/ Meningkatkan
pengetahuan pasien dan pasien dapat kooperatif dalam proses penyembuhannya.
Discharge Planning
1. Pasien
dengan asma kambuhan harus menjalani pemeriksaan, mendeteksi substansi yang
mencetuskan terjadinya serangan.
2. Menghindari
agen penyebab serangan antara lain bantal, kasur (kapas), pakaian jenis
tertentu, hewan peliharaan, kuda, sabun, makanan tertentu, jamur dan serbuk
sari.
3. Menganjurkan
pasien untuk segera melaporkan tanda-tanda dan gejala yang menyulitkan seperti
bangun saat malam hari dengan serangan akut atau mengalami infeksi pernafasan.
4. Hidrasi
adekuat harus dipertahankan untuk menjaga sekresi agar tidak mengental.
5. Pasien
harus diingatkan bahan infeksi harus dihindari karena infeksi dapat mencetuskan
serangan.
6. Menggunakan
obat-obat sesuai dengan resep.
7. Kontrol
ke dokter sesuai pesanan.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner
and Suddarth’s. Text Book Medical Surgical Nursing. Buku I.
Philadelphia: JB Lippincott Company, 2000.
Doengoes
Marilyn. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Penerbit Buku Kedokteran
EGC, 1999.
Lewis. Medical
Surgical Nursing. Volume II Edisi 5. Mosby Philadelphia, 2000.
Nancy M. Holloway. Medical Surgical Nursing
Care Plans. Pensylvania: Springhouse Corporation, 1988).
Nelson, Ilmu Kesehatan Anak Bagian 1. Penerbit
Buku Kedokteran EGC, 1988.
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, Buku
Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Jakarta,
1985.
Sylvia Anderson. Patofisiologi Konsep Klinik
Proses-Proses Penyakit. Edisi IV. Jakarta: EGC, 1994.
Obat Darah Tinggi
BalasHapuswaiting for next article, so interesting.
BalasHapusObat Kolesterol Dan Asam Urat Herbal Paling Ampuh
Obat Kolesterol Dari Bahan Tradisional Paling Mujarab
Obat Kolesterol Jahat Alami Herbal Mujarab
Obat Kolesterol Yang Manjur Dan Aman untuk Semua Kalangan
Nice to be visiting your blog again, i was just browsing along and came upon your blog. just wanted to say good blog and this article really helped me.
BalasHapusObat Kolesterol 100% Herbal Aman Tanpa Efek Samping
Obat Kolesterol Tinggi Tanpa Adanya Efek Samping Negatif
Obat Kolesterol Alami Untuk Melawan Kolesterol Jahat
Obat Kolesterol Menahun 100% Dari Herbal Tradisional