Asuhan Keperawatan Anak / Laporan Pendahuluan dengan
Gastroenteritis (Diare Dehidrasi Sedang)
A. Definisi
Diare adalah Buang Air Besar encer
lebih dari 3 kali sehari. (WHO, 1980)
Gastroenteritis adalah keadaan ketika
seorang individu mengalami atau berisiko mengalami defekasi sering dengan feces
cair atau feses tidak berbentuk. (Carpenito, 2007)
Gastroenteritis atau diare adalah
Buang Air Besar (defekasi) dengan jumlah feces yang lebih banyak, dengan feces
berbentuk cair/setengah padat dapat disertai frekuensi yang meningkat.
B. Etiologi
1. Faktor infeksi
a. Infeksi interal
Infeksi saluran pencernaan makanan
yang merupakan penyebab utama diare pada anak.
1) Infeksi bakteri
Vibrio, E. Coli, Salmonella, Shigella,
Campylobacter, Yersinia, Aeromonas.
2) Infeksi virus
Enterovirus: Virus Echo, Coxsackie,
Poliomyelitis
Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus.
3) Infeksi parasit
Cacing: Ascaris, Trichuris, Oxyuris,
Strongyloide
Protozoa: Entamoeba hystolica, Giardia
lambilia, Trichomonas hominis
Jamur: Candida albicanas
b. Infeksi parenteral
Infeksi di luar alat pencernaan
makanan, seperti: Otitis Media Akut (OMA), tonsillitis/tonsilofaringitis,
bronchopneumonia, ensefalitis. Terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di
bawah 2 tahun.
2. Faktor malabsorbsi
a. Malabsorbsi karbohidrat
Disakarida (intoleransi laktosa,
maltose, dan sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa, dan
galaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering adalah intoleransi
laktosa.
b. Malabsorbsi lemak
c. Malabsorbsi protein
3. Faktor makanan
Makanan basi, makanan beracun, dan
alergi terhadap makanan.
4. Faktor psikologis
Rasa takut dan cemas (jarang tetapi
dapat terjadi pada anak yang lebih besar)
C. Manifestasi Klinis
Gejala awal anak menjadi cengeng,
gelisah, suhu badan mungkin meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada,
kemudian timbul diare feces makin cair, mungkin mengandung darah atau lender,
warna feces berubah menjadi kehijau – hijauan karena tercampur empedu, anus dan
sekitarnya menjadi lecet karena feces menjadi asam akibatnya banyaknya asam
laktat yang terjadi dari pemecahan laktosa yang tidak dapat diabsorbsi oleh
usus. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah dehidrasi diare. Bila
penderita telah banyak kehilangan air dan elektrolit terjadilah gejala
dehidrasi, berat badan menurun pada bayi, ubun – ubun besar dan cekung, tonus
dan turgor kulit berkurang, selaput lender mulut dan bibir menjadi kering.
Gejala klinis sesuai tingkat dehidrasi
adalah sebagai berikut:
1. Ringan (kehilangan 2,5% BB)
Kesadaran compos mentis, nadi kurang
dari 120 kali permenit, pernapasan biasa, ubun – ubun besar dan agak cekung,
mata agak cekung, turgor dan tonus biasa, mulut kering.
2. Sedang (kehilangan 6,9% BB)
Kesadaran gelisah, nadi 120 – 140 kali
permenit, pernapasan agak cepat, ubun – ubun besar dan agak cekung, mata tampak
cekung, turgor dan tonus agak berkurang, mulut kering.
3. Berat (kehilangan >10% BB)
Kesadaran apatis sampai koma, nadi
lebih dari 140 kali permenit, pernapasan kuamaul, ubun – ubun besar dan cekung
sekali, turgor dan tonus kurang sekali, mulut kering, sianosis.
D. Patofisiologi
Menurut Ngastiyah, 2006 dan Mansjoer,
2000, yaitu:
1. Gangguan osmotic yaitu akibat adanya makanan atau zat yang tidak
dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat
sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus yang
berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkan sehingga akan timbul diare.
2. Gangguan sekresi akibat rangsangan tertentu (misal toksik) pada
dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam
rongga usus selanjutnya terjadi diare.
3. Gangguan motilitas usus yaitu hiperperistaltik akan menyebabkan
berkurangnya usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya
peristaltic usus menurun akan menyebabkan bakteri tumbuh berlebihan dan
selanjutnya timbul diare.
4. Factor infeksi virus, bakteri, dan parasit masuk ke dalam tubuh
manusia melalui makanan dan minuman yang tercemar, tertelan lalu masuk ke dalam
lambung yang akan dinetralisir oleh asam lambung. Mikroorganisme akan mati atau
bila jumlahnya banyak maka aka nada yang lolos sampai usus duabelas jari
(duodenum) dan akan berkembangbiak di usus halus. Bakteri memproduksi enzim
mucinosa yang mana mencairkan cairan lendir sel epitel. Di dalam membrane
bakteri mengeluarkan sehingga penyerapan makanan/air terganggu, terjadilah
hipersekresi sehingga timbul diare.
5. Factor non infeksi (malabsorbsi) merupakan makanan yang tidak
dapat diserapoleh lambung yang terdapat keseimbangan mikrofa melalui proses
fermentasi, mikrofa usus metabolism berbagai macam substrat terutama komponen
dari diet dengan hasil aakhir asam lemak dan gas sehingga tekanan osmotic dari
rongga usus meningkat dan terjadi perpindahan cairan dari rongga usus yang
berakibat mobilitas usus meningkat sehingga menimbulkan diare.
E. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Manjoer, 2000, yaitu:
1. Pemeriksaan tinja
a. Makroskopis dan mikroskopis
b. pH dan kadar gula jika diduga ada intoleransi gula (sudar
intolerance)
c. Biakan kuman dan unji resistensi
2. Pemeriksaan darah
a. Darah perifer lengkap
b. Analisis gas darah dan elektrolit (terutama Na, K, Ca, dan P
serum pada diare yang disertai kejang)
c. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin darah untuk mengetahui
faaf ginjal
d. Duodenal intubation, untuk mengetahui kuman penyebab secara
kuantitatif dan kualitatif terutama pada diare kronik
F. Komplikasi
Menurut Ngastiyan, 2006, yaitu:
1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, atau hipertonik)
2. Renjatan hipovolemik
3. Hipokalemia (dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah,
bradikardia, perubahan elektrodiogram)
4. Hipoglikemia
5. Intoleransi sekunder skibat kerusakan vili mukosa usus dan
defisiensi enzim lactase
6. Kejang, terjadi pada dehidrasi hipertonik
7. Malnutrisi energy protein (akibat muntah dan diare, jika lama
atau kronik)
G. Penatalaksanaan
Menurut Ngastiyah, 2006, yaitu:
1. Pemberian cairan pada diare dengan memperhatikan derajad
dehidrasinya dan keadaan umum:
a. Belum ada dehidrasi
1) Oral sebanyak anak mau minum atau 1 gelas setiap diare
2) Parenteral dibagi rata dalam 24 jam
b. Dehidrasi ringan
1) 1 jam pertama: 25 – 50 CC/Kg BB/oral atau intragastrik
2) Selanjutnya: 50 – 100 CC/Kg BB/hari
c. Dehidrasi sedang
1) 1 jam pertama: 25 – 50 CC/Kg BB/oral intragastrik
2) Selanjutnya: 125 ml/Kg BB/Hari
d. Dehidrasi berat
Untuk anak 1 bulan sampai 2 tahun
dengan BB 3 – 10 Kg
1) 1 jam pertama: 40 ml/Kg BB/jam atau 10 tetes/Kg BB/menit (dengan
infuse 15 tetes) atau 13 tetes/Kg BB/menit (dengan infuse 1 ml = 20 tetes)
2) 7 jam kemudian: 12 ml/Kg BB/jam atau 3 tetes/Kg BB/menit (dengan
infuse 1 ml = 15 tetes)
3) 16 jam berikutnya: 125 ml/Kg BB/menit (1 ml = 15 tetes) atau 3
tetes/Kg BB/menit (1 ml = 20 tetes)
2. Penobatan dietetic
a. Untuk anak di bawah 1 tahun dan anakan di atas 1 tahun dengan BB
< 7 Kg, jenis makanan yang diberikan yaitu:
1) Susu (ASI atau susu formula yang mengandung laktosa rendah dan
asam lemak tidak jenuh, misalnya LLM, almiron)
2) Makanan setengah padat (bubur) atau makanan padat (nasi tim)
bila tidak mau minum susu karena di rumah tidak biasa.
3) Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan.
Misalnya: susu yang mengandung laktosa atau asam lemak yang berantai sedang
atau tidak jenuh.
b. Untuk anak di atas 1 tahun dengan BB > 7 Kg, jenis
makanannya: makanan padat, cair, atau susu sesuai dengan kebiasaan di rumah
3. Obat – obatan
Prinsip pengobatan diare adalah
mengganti cairan yang hilang melalui tinja dengan atau tanpa muntah, dengan
cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa karbohidrat lain )gula, air
tajin, tepung beras)
a. Obat anti sekresi
Asetoral: dosis 25 ml/tahun (minimum
30mg)
Klorpromazin: dosis 0,5 – 1 mg/Kg
BB/hari
b. Obat anti diare (kaolin, pectin, charcoal, tabonal
c. Antibiotic
G. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas pasien dan penanggung jawab
b. Keluhan utama
c. Riwayat penyakit sekarang
d. Riwayat penyakit dahulu
e. Riwayat kesehatan keluarga
f. Riwayat kesehatan lingkungan
g. Pengkajian dan focus (Doengoes, 2000)
1) Aktivitas / istirahat
Gejala: kelemahan,
kelelahan, malaise, cepat lelah, insomnia, tidak tidur semalaman, merasa
gelisah dan ansietas, pembatasan aktivitas / kerja
2) Sirkulasi
Tanda: takikardi,
(respon terhadap demam, dehidrasi, proses inflamasi, dan nyeri), kemerahan,
area ekimosis (kekurangan vitamin K), TD: hipotensi, termasuk postural,
kulit/membrane mukosa (turgor buruk, kering, lidah pecah – pecah),
dehidrasi/malnutrisi
3) Integritas ego
Gejala: ansietas,
ketakutan, emosi, perasaan tak berdaya/tak ada harapan, stress.
Tanda: menolak,
perhatian menyempit, depresi.
4) Eliminasi
Gejala: tekstur
feces bervariasi dari bentuk lunak sampai bau atau berair, episode diare
berdarah tak dapat diperkirakan, perdarahan per rectal, riwayat batu ginjal
(dehidrasi)
Tanda: menurunnya
bising usus, tak ada peristaltic atau adanya peristaltic yang dapat dilihat,
oliguria
5) Makanan / cairan
Gejala: anoreksia,
mual / muntah, penurunan BB, tidak toleran terhadap diet
Tanda: penurunan
lemak subkutan/massa otot, kelemahan, tonus otot dan turgor kulit buruk,
membrane mukosa pucat, luka, inflamasi rongga mulut
6) Hygiene
Tanda:
ketidakmampuan mempertahankan perawatan diri, stomatitis kekurangan vitamin,
bau badan
7) Nyeri/kenyamanan
Gejala: nyeri tekan
pada kuadran kiri bawah (mungkin hilang dengan defekasi)
Tanda: nyeri tekan
abdomen/defekasi
8) Keamanan
Tanda: riwayat lupus
eritematosus, anemia metabolic, vaskulitis, peningkatan suhu 39,6 – 400C,
alergi terhadap makanan/produk susu (mengeluarkan histamine ke dalam usus dan
mempunyai efek inflamasi)
Gejala: lesi kulit
(nyeri tekan, kemerahan, dan membengkak)
9) Seksualitas
Gejala: frekuensi
menurun/menghindari aktivitas seksual
10) Interaksi social
Gejala: masalah
hubungan/peran, ketidakmampuan aktif dalam social
11) Penyuluhan/pembelajaran
Gejala: riwayat
keluarga berpenyakit inflamasi usus
Pertimbangan: DRG menunjukkan rerata
lama dirawat = 7,1 hari
Rencana pemulangan: bantuan dengan
program diet, obat dan dukungan psikologis
2. Diagnosa keperawatan
Menurut Nanda, 2005 – 2006, yaitu:
a. Diare b.d proses infeksi, makanan, psikologis
Batasan karakteristik:
1) BAB > 3 kali sehari
2) Suara usus hiperperistaltik
3) Nyeri tekan
4) Kram abdomen
5) Urgensi
b. Deficit volume cairan b.d kehilangan cairan sekunder akibat
diare
Batasan karakteristik:
1) Perubahan status mental
2) Kelemahan
3) Haus
4) Penurunan turgor kulit
5) Membrane kulit kering
6) Peningkatan denyut nadi, suhu tubuh
7) Kehilangan BB secara tiba – tiba
8) Peningkatan konsentrasi urine
c. Penurunan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d malabsorbsi
nutrient
Batasan karakteristik:
1) BB 20% atau lebih di bawah ideal
2) Suara usus hiperperistaltik
3) Enggan untuk makan
4) Kenyang secara mendadak setelah kemasukan makanan
5) Tonus otot jelek
6) Perasaan ketidakmampuan untuk mengunyah makanan
7) Kehilangan rambut yang cukup banyak (rontok)
d. Kerusakan integritas kulit b.d iritasi kulit
Batasan karakteristik:
1) Gangguan pada bagian tubuh
2) Kerusakan lapisan kulit (dermis)
3) Rusaknya permukaan kulit (epidermis)
e. Hipertermi b.d penurunan sirkulasi
Batasan karakteristik:
1) Peningkatan suhu tubuh di atas batas normal
2) Convulsi (kejang)
3) Kulit merah
4) Takikardi
5) Hangat ketika disentuh
6) Takipnea
f. Kurang pengetahuan b.d keterbatasan kognitif, kurang informasi
yang adekuat
Batasan karakteristik:
1) Permintaan informasi
2) Tidak tepat dalam mengikuti pikiran atau intruksi
3) Tingkah laku yang tidak tepat
4) Verbalisasi masalah
3. Intervensi
a. Diagnosa 1
Tujuan : penurunan frekuensi BAB <
3 kali/hari
Kriteria hasil:
1) Feses mempunyai bentuk
2) Rectal tidak terjadi iritasi
3) Tidak mengalami diare
Intervensi:
1) Kaji penyebab factor diare
Rasional: untuk mengetahui penyebab
dari diare
2) Turunkan aktivitas fisik
Rasional: dapat menurunkan peristaltic
3) Tingkatkan pemenuhan kebutuhan cairan per oral
Rasional: untuk menggantikan cairan
per oral
4) Anjurkan meningkatkan kebersihan
Rasional: untuk mencegah penyebaran
infeksi
5) Kolaborasi pemberian terapi antibiotic
Rasional: untuk membunuh kuman dan
mencegah infeksi
b. Diagnosa 2
Tujuan: dapat terpenuhinya kebutuhan
cairan
Kriteria hasil:
1) Tidak ada tanda – tanda dehidrasi
2) Turgor kulit baik
3) Membrane mukosa lembab
4) Tidak ada rasa haus yang berlebihan
5) Tekanan darah, nadi, suhu dalam batas normal
Intervensi:
1) Kaji TTV
Rasional: untuk mengetahui respon
terhadap efek kehilangan cairan
2) Monitor dan catat intake dan output
Rasional: untuk mengetahui jumlah
cairan yang masuk dan keluar
3) Berikan wadah yang tidak biasa (cangkir berwarna, sedotan)
Rasional: untuk menarik dan
meningkatkan masukan cairan
4) Kolaborasi pemberian cairan parenteral
Rasional: untuk mengganti cairan yang
hilang
c. Diagnosa 3
Tujuan: masalah nutrisi dapat
terpenuhi
Kriteria hasil:
1) Adanya peningkatan BB
2) Mempu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
3) Tidak terjadi penurunan BB
4) Menunjukkan fungsi pengecapan bertambah
Intervensi:
1) Kaji kebiasaan diit, masukan makanan saat ini, dan derajat
kesulitan makanan
Rasional: untuk mengetahui kebutuhan
nutrisi yang diperlukan
2) Kaji TTV
Rasional: indikasi respond an status
nutrisi
3) Anjurkan makanan porsi sedang tapi sering
Rasional: meningkatkan masukan nutrisi
4) Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diit yang tepat
Rasional: untuk perencanaan diit yang
sesuai untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
d. Diagnosa 4
Tujuan: kulit tidak lecet, kulit tidak
kemerahan
Kriteria hasil:
1) Menunjukkan penyembuhan luka tanpa komplikasi
2) Mampu mengidentifikasi factor penyebab
3) Tidak ada lesi pada kulit
Intervensi:
1) Kaji keadaan kulit
Rasional: menunjukkan risiko kerusakan
2) Identifikasi tahap luka
Rasional: menentukan pengobatan yang
tepat
3) Cuci area yang kemerahan dengan lembut menggunakan sabun ringan
Rasional: untuk mencegah terjadinya
kompilkasi
4) Tingkatkan masukan karbohidrat dan protein
Rasional: untuk mempercepat
penyembuhan luka
e. Diagnosa 5
Tujuan: dapat mempertahankan suhu
tubuh dalam batas normal
Kriteria hasil:
1) Suhu tubuh dalam batas normal
2) Badan tidak panas
3) Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak pusing
Intervensi:
1) Kaji TTV
Rasional: untuk mengetahui keaadaan
umum paisen
2) Berikan kompres hangat
Rasional: panas cepat turun
3) Anjurkan memakai pakaian tipis dan menyerap keringat
Rasional: untuk mengurangi panas
4) Kolaborasi pemberian obat antipiretik
Rasional: menurunkan suhu tubuh
f. Diagnosa 6
Tujuan: menunjukkan peningkatan
pemahaman kondisi selama tindakan perawatan.
Kriteria hasil:
1) Mendeskripsikan proses penyakit
2) Mendeskripsikan factor penyebab
3) Menyebutkan tanda dan gejala penyakit
4) Mendeskripsikan tindakan menurunkan progresifitas
Intervensi:
1) Kaji ulang pengetahuan pasien dan keluarga terhadap penyakit
Rasional: mengidentifikasi pengetahuan
keluarga terhadap penyakit yang dialami pasien
2) Berikan informasi adekuat tentang proses penyakit. Prognosis,
dan perawatan
Rasional: pemberian
pendidikan kesehatan diharapkan pengetahuan keluarga bertambah
3) Diskusi perubahan gaya hidup yang bisa untuk mencegah komplikasi
Rasional: dapat mencegah terjadinya
komplikasi lebih lanjut
4) Diskusikan tentang pilihan terapi atau perawatan
Rasional: meningkatkan keaktifan
keluarga dalam perawatan pasien
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito. 2007. Diagnosa
Keperawatan Aplikasi pada Praktik Klinis. Jakarta: EGC.
Doengoes. 2000. Asuhan
Keperawatan Maternal/Bayi. Jakarta: EGC.
Ngastiyah. 2006. Perawatan
Anak Sakit. Jakarta: EGC.
Your post is so good, I wait for your next post
BalasHapusObat Kolesterol Dan Asam Urat Herbal Paling Ampuh
Obat Kolesterol Dari Bahan Tradisional Paling Mujarab
Obat Kolesterol Jahat Alami Herbal Mujarab
Obat Kolesterol Yang Manjur Dan Aman untuk Semua Kalangan